EKSPLORASI BUKTI SEJARAH DI TANAH 1001 MESJID

Perjalanan ini didasari oleh hasrat
ingin tau dari sang penulis (Eka Rifqi Kurniawan) serta tuntutan dari tugas
matakuliah (filologi). Tepat pada tanggal 20 oktober 2019 penulis yang berada
disudut kota mataram mulai melangkahkan kakinya dalam menulusuri informasi
terkait dengan dimanakah letak dari bukti sejarah yang berupa naskah kuno.
Dalam perjalanan tersebut tanpa sengaja penulis asing akrab dengan seorang
pedagang jeruk disalah satu jalan yang amat padat, yakni jalan swadaya (kel.
kekalik mataram).
Percakapan pun terjadi, pedagang jeruk madu bernama bukhori
(29) memiliki informasi terkait salah seorang masyarakat yang memiliki beberapa
macam barang pusaka termasuk naskah yang hendak ingin dieksplor oleh sang penulis.
Tak selang beberapa lama sembari memakan jeruk sang penulis diberikan informasi
terkait keberadaan orang yang memiliki naskah dan pusaka itu oleh bukhori si
penjual madu tersebut. Maka bergegaslah sang penulis menghidupkan motor
klasiknya (astrea 70) untuk segera mendatangi rumah beliau yang berada ditepi
kota mataram tepatnya di terong tawon.
Sesampainya dirumah beliau penulis
disambut dengan ramah oleh pak RK SYAMSUDIN yakni pemilik naskah dan benda
pusaka yang ingin diekplor. Dalam kesempatan itu, penulis segera meceritakan
tujuannya mendatangi beliau. Beliaupun terkesan langsung menerima dengan ramah
kedatangan sang penulis dan langsung menanggapi dengan mengeluarkan dua buah
buku tebal yang ternyata isinya adalah naskah-naskah kuno.
Dengan besar harapan sang penulis
meminta pak Syamsudin agar kiranya berkenan melafalkan isi dari buku naskah
tersebut. Tanpa menunggu lama, beliau segera menembangkan naskah yang berjudul
”Serat Centini” dari penjelasan pak
Syamsudin serat berarti surat dan centini berarti perjalanan hidup.
Secara anasisi yang teliti penulis
mengartikan serat centini merupakan salah satu serat yang menceritakan
perjalanan hidup manusia dalam menggapai tujuannya. Berikut adalah isi atau
makna yang ditangkap oleh penulis dalam menyimak dan menelaah tembang serat
centini oleh pak Syamsudin.

Serat
centini menceritakan tentang perjalanan hidup manusia dalam menuntut ilmu supaya
manusia tau mana jalan yang benar menuju
rabb yang telah mencipkannya di duniawi.
Akan tetapi manusia memliki sifat ingkar, yakni tak bersungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu dan ilmu dipergunakan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya tidak
baik.
Manusia
lebih mengutamakan kepuasan duniawi dari pada amal ibadah untuk akhirat. Serat
centini mengajarkan bahwa esensi dari kehidupan ialah tentang cara bagaimana
manusia harus berguna untuk alam dan seisinya terutama sesama manusia
dalam hal kebajikan.
Secara
telaah dari sang penulis, diatas merupakan hasil kajian dari isi serat centini
yang dimiliki oleh pak Syamsudin. Tak hanya naskah kuno yang dimiliki oleh pak
Syamsuddin, beliau juga mempunyai dua bilah keris pusaka yang diwariskan oleh
nenek moyangnya untuk dijaga dan dilindungi. Keris tersebut menurut cerita pak
Syamsuddin merupakan senjata yang dimiliki oleh keturuan anggota dalang . anggota
dalang itu memiliki julukan tersendiri yakni pujut (cahaya atau nur), sila
paran (tuntutan), pejanggik (para pujangga), dan pujut (daerah pengabdian
anggota dalang)

Demikian
merupakan hasil eksplorasi penulis Eka Rifqi Kurniawan Mahasiswa Fkip Prodi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram. Semoga bermanfaat bagi pembaca
dan semoga menambah wawasan terkai bukti
sejarah yang berada di tanah berujulukan 1001
mesjid yakni Lombok-Nusa Tenggara Barat.
Terimakasih…….
Bagus, sangat bermanfaat👍👍
BalasHapusTerimakasih
HapusMantap lenga..
BalasHapusTerimakasih apresiasinya
HapusMantap bung. Sangat membantu
BalasHapusSemangat terus mengenal budaya-budaya Indonesia kak. Btw, kurang bukti fotonya kak
BalasHapusKesalahan teknis gambarnya gk mau tampil
HapusMantapp artikel nya👍
BalasHapusPositif
BalasHapusSemangat menulis artikel, semoga lebih baik lagi artikelnya. Semangat !
BalasHapusMantap
BalasHapusBagus ka
BalasHapusuisss mantap, di tunggu tulisan selanjutnya
BalasHapus