Rabu, 23 Oktober 2019


EKSPLORASI BUKTI SEJARAH DI TANAH 1001 MESJID
            Perjalanan ini didasari oleh hasrat ingin tau dari sang penulis (Eka Rifqi Kurniawan) serta tuntutan dari tugas matakuliah (filologi). Tepat pada tanggal 20 oktober 2019 penulis yang berada disudut kota mataram mulai melangkahkan kakinya dalam menulusuri informasi terkait dengan dimanakah letak dari bukti sejarah yang berupa naskah kuno. Dalam perjalanan tersebut tanpa sengaja penulis asing akrab dengan seorang pedagang jeruk disalah satu jalan yang amat padat, yakni jalan swadaya (kel. kekalik mataram).
            Percakapan pun  terjadi, pedagang jeruk madu bernama bukhori (29) memiliki informasi terkait salah seorang masyarakat yang memiliki beberapa macam barang pusaka termasuk naskah yang hendak ingin dieksplor oleh sang penulis. Tak selang beberapa lama sembari memakan jeruk sang penulis diberikan informasi terkait keberadaan orang yang memiliki naskah dan pusaka itu oleh bukhori si penjual madu tersebut. Maka bergegaslah sang penulis menghidupkan motor klasiknya (astrea 70) untuk segera mendatangi rumah beliau yang berada ditepi kota mataram tepatnya di terong tawon.
            Sesampainya dirumah beliau penulis disambut dengan ramah oleh pak RK SYAMSUDIN yakni pemilik naskah dan benda pusaka yang ingin diekplor. Dalam kesempatan itu, penulis segera meceritakan tujuannya mendatangi beliau. Beliaupun terkesan langsung menerima dengan ramah kedatangan sang penulis dan langsung menanggapi dengan mengeluarkan dua buah buku tebal yang ternyata isinya adalah naskah-naskah kuno.
            Dengan besar harapan sang penulis meminta pak Syamsudin agar kiranya berkenan melafalkan isi dari buku naskah tersebut. Tanpa menunggu lama, beliau segera menembangkan naskah yang berjudul ”Serat Centini” dari penjelasan pak Syamsudin serat berarti surat dan centini berarti perjalanan hidup.
            Secara anasisi yang teliti penulis mengartikan serat centini merupakan salah satu serat yang menceritakan perjalanan hidup manusia dalam menggapai tujuannya. Berikut adalah isi atau makna yang ditangkap oleh penulis dalam menyimak dan menelaah tembang serat centini oleh pak Syamsudin.

Serat centini menceritakan tentang perjalanan hidup manusia dalam menuntut ilmu supaya manusia tau  mana jalan yang benar menuju rabb  yang telah mencipkannya di duniawi. Akan tetapi manusia memliki sifat ingkar, yakni tak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan ilmu dipergunakan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya tidak baik.
Manusia lebih mengutamakan kepuasan duniawi dari pada amal ibadah untuk akhirat. Serat centini mengajarkan bahwa esensi dari kehidupan ialah tentang cara bagaimana manusia harus berguna untuk alam dan seisinya terutama sesama manusia dalam  hal kebajikan.
Secara telaah dari sang penulis, diatas merupakan hasil kajian dari isi serat centini yang dimiliki oleh pak Syamsudin. Tak hanya naskah kuno yang dimiliki oleh pak Syamsuddin, beliau juga mempunyai dua bilah keris pusaka yang diwariskan oleh nenek moyangnya untuk dijaga dan dilindungi. Keris tersebut menurut cerita pak Syamsuddin merupakan senjata yang dimiliki oleh keturuan anggota dalang . anggota dalang itu memiliki julukan tersendiri yakni pujut (cahaya atau nur), sila paran (tuntutan), pejanggik (para pujangga), dan pujut (daerah pengabdian anggota dalang)
Demikian merupakan hasil eksplorasi penulis Eka Rifqi Kurniawan Mahasiswa Fkip Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan  semoga menambah wawasan terkai bukti sejarah yang berada di tanah berujulukan 1001 mesjid yakni Lombok-Nusa Tenggara Barat.
Terimakasih…….

13 komentar: